Cara Tepat Mengatasi Opik Grabfood Gofood, Sistem Deposit Solusinya!

By | 13 Januari 2019

Layanan pesan antar makanan dari kedua perusahaan ojek online di Indonesia Grab dan Gojek memang memanjakan banyak pelanggan. Tanpa harus antri di rumah makan atau restoran, tidak perlu kehujanan atau kepanasan, ataupun menempuh ramainya lalu lintas, pelanggan bisa menikmati makanan yang diinginkan. Hanya saja kasus opik GrabFood dan GoFood semakin sering memakan korban. Dalam hal ini lebih sering para driver yang dirugikan.

Opik Grabfood dan Gofood

Opik atau Orderan Fiktif adalah tindakan seseorang memesan jasa driver Gojek ataupun Grab namun ternyata si pemesan tidak ditemukan orangnya atau alamatnya. Sama seperti kasus tuyul yang pelakunya adalah oknum driver dengan manggunakan aplikasi Fake GPS, pelaku Opik melakukan hal yang sama. Dengan bermodal alamat palsu mereka memesan jasa driver untuk mengerjainya.

Baca juga:

Kasus opik paling sering terjadi pada layanan GrabFood dan GoFood. Kalaupun pesanan fiktif ini terjadi pada jasa antar penumpang, tentu kerugian hanya pada terbuangnya bensin dan waktu si driver. Namun pada GrabFood dan GoFood, kerugian yang diderita driver berlipat ganda. Sistem perusahaan yang mengharuskan mereka menalangi terlebih dahulu makanan yang dipesan, membuat ojol harus gigit jari manakala pemesan adalah orang iseng. Lantas apa solusi permasalahan ini?

Kasus-kasus Menyedihkan Opik GrabFood dan GoFood

Berbagai kejadian opik GrabFood dan GoFood belum juga menggugah pihak perusahaan untuk lebih merumuskan dan memberikan jalan terbaik. Padahal para driver sebagai mitra kerjanya jelas-jelas sangat dirugikan. Berikut ini beberapa contoh kejadian order fiktif yang menyedihkan.

1. Erik, Korban Kelima Dari Satu Opik

Kasus ini terjadi sekitar Agustus 2017. Dikutip dari Detik.com, Erik menerima orderan GoFood untuk membeli Sate Khas Senayan sebanyak 2 porsi atas nama Julianto. Total belanja yang harus ia bayar adalah Rp232.500. Setelah membeli makanan tersebut, ia pun meluncur ke alamat Julianto di Bank Danamon, Matraman, Jakarta Timur.

Ketika sampai di tujuan, ia malah disambut oleh sekuriti Bank Danamon. Sekuriti tahu kalau Erik akan mengantar pesanan ke Julianto di lantai 5. “Kok tahu?” tanya Erik. Ternyata dirinya adalah orang kelima yang tertipu orderan fitktif atas nama Julianto. Akhirnya dia memutuskan untuk menyatap saja makanan yang dibelinya. Meskipun pihak Gojek menerima permintaan refund dana akibat ordean fiktif, menurut Erik prosesnya lama dan harus membawa makanan dan struknya. Daripada basi, maka ia memilih membiarkan saja kerugian yang ditanggungnya.

Ternyata kejadian tersebut tidak hanya terjadi hanya pada hari itu saja. keesokan harinya peristiwa sama terjadi pada para ojol. Anehnya Julianto sendiri tidak merasa memesan makanan hingga berulang kali. Kasus tersebut berujung pada penanganan oleh kepolisian dan berhasil menetapkan Sugiarti dan Arti sebagai pelaku pencemaran nama baik Julianto sekaligus pelaku orderan fiktif tersebut.

2. Menunggu Pemesan yang Fiktif Hingga Larut Malam

Kisah tragis driver terkena orderan fiktif masih terus berlanjut. Kisah baru-baru ini diunggah oleh akun seorang calon DPRD Sulawesi Selatan bernama Eko Bramandiko SE. Pada 6 Januari 2019 lalu, ia menjumpai seorang driver wanita di balaikota Makassar. Wanita itu tidak belum bisa cara cancel GrabFood yang jumlahnya mencapai Rp207.000. Pemesan tak juga menampakkan batang hidungnua hingga larut malam. Beruntung Pak Eko membantunya untuk cancel orderan GrabFood.

solusi Opik Grabfood dan Gofood

Eko Bramandiko SE dan salah satu driver GrabFood yang kena opik

Masih dari akun tersebut, kejadian-kejadian opik GrabFood dan GoFood banyak diunggahnya. Memang sang caleg ini mengarahkan perjuangannya terfokus pada perlindungan para driver. Sehingga banyak kasus dan pengalaman para driver yang ditemuinya.

solusi Opik Grabfood dan Gofood

Kasus lain yang tak kalah tragis. Apakah Grab dan Gojek sudi mengubah sistem pembayaran orderan makanan?

Opik GrabFood dan GoFood Siapa Yang Untung dan Siapa yang Rugi?

Berbeda pada kasus opik tuyul yang lebih merugikan perusahaan dan menguntungkan oknum, opik GrabFood dan GoFood lebih berpotensi merugikan para driver. Sistem GrabFood maupun GoFood mengharuskan mereka membayar makanan yang dipesan customer terlebih dahulu. Baru kemudian biaya akan diganti oleh orang yang memesan makanan.

Baca juga: Pengalaman Cerita Unik Driver Ojek Online (GOjek Grab), Menarik!

Nah, ketika driver sudah susah payah menalangi/menanggung pembayaran di rumah makan, lalu ternyata pemesan adalah fiktif alias tidak nyata, maka jelas driver menanggung kerugian berlipat-lipat. Mulai dari lelahnya mengantri untuk membeli pesanan, bensin yang terbuang untuk perjalanan, dan tentu saja uang untuk modal membeli makanan. Bahkan ada yang terpaksa menggunakan uang bayaran sekolah anaknya demi membelikan makanan yang dipesan. Yang paling menyesakkan tentu adalah saat menyadari bahwa pesanan yang ditanggungnya ternyata palsu. Pemesan tidak muncul, atau alamatnya palsu.

Untuk pihak Grab dan Gojek, mereka tak terlalu dirugikan secara finansial oleh adanya opik GrabFood dan GoFood ini. Namun jika tidak ada tindakan yang bijak dan tegas, maka reputasi adalah taruhannya. Para mintra driver akan merasa tidak dipenuhi haknya dan dilindungi. Perusahaan hanya menjadikan mereka sebagai sapi perah yang menghasilkan.

Sementara pelaku opik GrabFood dan GoFood biasanya hanya memuaskan keisengan atau kejailannya. Namun ada juga yang memang sengaja ingin menjatuhkan martabat ataupun jabatan seseorang. Seperti pada kasus pertama di atas, orderan fiktif dilakukan untuk meneror Julianto. Anda tentu juga kebingungan jika merasa tidak pernah memesan jasa pengantar makanan, tahu-tahu didatangi sejumlah tokang ojek.

Tentu di sini para driver lah yang paling menderita. Belum lagi cara cancel order Grabfood maupun GoFood terbilang rumit dan berbelit. Sehingga banyak driver yang memilih memakan orderan dengan menahan sesak.

Sistem Deposit, Solusi Paling Masuk Akal

Grab dan Gojek memang telah meluncurkan gerakan untuk melawan opik. Namun hingga saat ini gerakan tersebut lebih pada membela kepentingan perusahaan saja. perusahaan tak mau rugi akibat ulah opik versi tuyul. Sedangkan untuk kasus opik yang memakan korban dari pihak driver, manajemen justru masih menerapkan aturan berbelit.

Permasalahan mendasar dari mudahnya seseorang iseng melakukan order fiktif bisa dipetakan sebagai berikut:

1. Pemesan mudah dalam membuat akun di Grab ataupun Gojek

Persyaratan untuk mendaftar menjadi pelanggan ojol sangatlah mudah. Anda hanya perlu mendaftar dan memasukkan identitas asli ataupun palsu. Tak ada syarat unggah KTP ataupun identitas.

Lain halnya para driver yang daftar Grab ataupun Gojek. Mereka harus menggunakan identitas diri maupun STNK untuk mendaftar sebagai driver.

2. Pembayaran di Akhir, Driver Sering Gigit jari

Persoalan selanjutnya ada pada sistem pembayaran. Ketika seseorang memesan jasa Grabfood atau GoFood, mereka bisa membayar ketika makanan sudah sampai. Tidak ada keharusan membayar di awal/deposit.

Karena itulah, pelaku Opik GrabFood dan GoFood bisa leluasa melakukan orderan tanpa keluar modal sepeser pun. Berapa kali pun ia memesan makanan, maka setiap kali pula driver jadi korban berjatuhan. Sedangkan di pelaku mungkin hanya mengintip sambil menahan tawa hingga perutnya sakit.

Eko Bramandiko mencetuskan ide sistem deposit untuk mengatasi orderan fiktif GrabFood maupun GoFood. Jika dipikirkan benar, maka ide ini sangat tepat. Dengan sistem pembayaran di awal maka otomatis pelaku opik GrabFood dan GoFood akan berpikir ulang untuk nakal. Sebab ia jelas-jelas sudah keluar biaya. Pembayaran di awal bisa dengan sistem transfer ke Grab atau Gojek, bisa juga dengan sistem potong saldo di akun Grab dan Gojek untuk penumpang.

Sudah saatnya manajemen Grab dan Gojek mengubah sistem pembayaran untuk GrabFood dan GoFood. Dan, sistem deposit atau pembayaran di awal bisa menjadi solusi terbaik mengatasi opik GrabFood dan GoFood. Semoga saja ide ini sampai kepada pihak perusahaan lalu dijadikan bahan pertimbangan. Sebagai perusahaan yang mewadahi para ojek, hendaknya juga memikirkan nasib para mitranya. Demikian, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *