From Hero to Zero : Memulai Bisnis Laundry Dari Nol, Menarik!

Setelah 13 tahun bekerja dengan karier yang bisa dibilang cukup lumayan, tibalah waktunya bagi saya untuk memulai sesuatu yang baru. Dengan beberapa pertimbangan, saya memutuskan untuk resign dan mencoba untuk memulai bisnis saya sendiri.

Sebelum resmi resign, saya menghabiskan cuti terakhir saya selama 1 bulan penuh untuk memikirkan, bisnis apa yang akan saya jalani. Ini salah. Seharusnya saya memikirkannya jauh-jauh hari sebelum mengambil keputusan. But it’s okay, maju terus pantang mundur.

Setelah cukup lama berpikir, akhirnya saya mengambil keputusan untuk membuka sebuah laundry. Kecil-kecilan saja, namanya juga pemula. Kenapa saya memutuskan untuk membuka laundry? Karena sekian lama saya menggunakan jasa tersebut. Sebagai perempuan bekerja yang cukup sibuk, tsaahh, saya lelah kalau harus menghabiskan weekend saya untuk urusan cuci setrika. Cucinya sih tidak masalah, tinggal pencet-pencet tombol. Setrika yang saya tidak kuat. Panas, lelah, bosan..

Saat ini, sudah hampir 1 tahun laundry berjalan dengan segala suka dukanya. Bohong kalau ada yang bilang bisnis sendiri PASTI lebih enak daripada bekerja sebagai karyawan. Semua ada plus minusnya. Usaha laundry memang menjanjikan, tapi bukan berarti kita bisa langsung mendapat keuntungan. Ada banyak hal yang harus dilakukan dengan hati-hati, apalagi ini uang saya sendiri. Apapun resikonya, saya sendiri yang harus menanggungnya.

 

 

Menentukan lokasi yang tepat tidaklah mudah – Saya memutuskan membuka laundry di sebuah apartemen di daerah Tangerang Selatan. Kenapa memilih apartemen? Karena saya sempat tinggal selama 2 tahun di apartemen, dan saya melihat sendiri betapa banyaknya pelanggan dari setiap laundry yang ada di sana. Keterbatasan lahan membuat penghuni memilih tidak memiliki mesin cuci. Kalaupun memiliki mesin cuci, area jemurnya pun nyaris tidak ada.

Sayangnya, saya salah memilih lokasi. Tower apartemen dimana laundry saya berada adalah tower baru dengan jumlah penghuni yang bisa dihitung dengan jari. Meski prospek ke depannya bagus, saat ini saya belum bisa mengandalkan penghasilan dari sana saja.

Lalu apakah saya menyerah? Oh tentu tidak. Saya gaet pelanggan dari tetangga-tetangga di perumahan saya. Dan hasilnya cukup baik. At least saya mulai berpikir untuk membuka cabang di sekitar perumahan mulai awal tahun depan.

 

 

Mencari perlengkapan sesuai kebutuhan dan budget – Bingung perlengkapan apa saja yang harus dimiliki untuk memulai usaha laundry? Tenang. Buka saja semua toko online, search ‘Paket Usaha Laundry’. Banyak sekali penjual yang menawarkan dengan harga yang cukup bersaing.

Saya pun membeli di sana. Dengan harga 25 juta, saya sudah mendapatkan mesin cuci, mesin pengering, setrika uap, rak, bon, plastic, paket chemicall untuk beberapa bulan pertama, keranjang, timbangan, dan semua hal yang diperlukan. Intinya, saya bisa langsung memulai bisnis saya tersebut.

 

 

Memahami proses kerja laundry yang benar – Saya pemula dalam bidang laundry. Untungnya saya pengguna laundry selama lebih dari 10 tahun. Saya paham apa saja yang membuat saya sebagai konsumen puas, dan apa yang membuat kecewa. Pengalaman itu membantu saya untuk membuat SOP sendiri, merancang alur kerja yang bisa memastikan cucian bersih, rapi, wangi, dan selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama.

 

Menekan biaya untuk memaksimalkan profit – Usaha sendiri berarti untung ruginya harus saya tanggung sendiri. Untuk menekan biaya, saya belajar untuk membuat sendiri semua chemical yang dibutuhkan. Sabun, softener, pewangi, penghilang noda, dll. Belajar darimana? Dari FB page komunitas pengusaha laundry, dari koko pemilik toko chemical, dari google, dst.

Memang awalnya agak repot, tapi lama kelamaan jadi terbiasa. Saya bahkan sudah menemukan resep yang paling simple untuk dibuat, dan paling ampuh untuk menghilangkan noda. Dengan membuat chemical sendiri, biaya yang bisa saya pangkas lumayan banyak. Untuk sabun misalnya. Harga sabun di pasaran Rp. 15.000,-/ liter, sementara biaya sabun buatan sendiri hanya Rp. 8.000,-/ liter. Itupun dengan grade A, jauh di atas kualitas sabun pasaran.

 

 

Mencari karyawan yang tepat – Pfiuh.. Mencari karyawan saat ini luar biasa susah. Sehari masuk, besoknya keluar. Masuk terus, tapi kualitas pekerjaan jauh dari kata memuaskan. Belum lagi urusan keuangan, kasbon dan penggelapan kecil-kecilan.

Menggunakan karyawan atau tidak ini pilihan. Beberapa pemilik laundry yang saya kenal memilih untuk tidak menggunakan karyawan. Selain lebih hemat, mereka tidak repot dengan segala complain akibat kecerobohan karyawan. Berhubung saya pemalas, ya saya pakai karyawan. Setelah beberapa kali keluar masuk, akhirnya saat ini saya mempekerjakan suami istri untuk menangani operasional.

Belajar percaya, tapi jangan percaya-percaya amat. Tarik ulur sajalah. Perlakukan mereka dengan baik, tapi juga jangan lupa untuk menyentil apabila memang ada kesalahan.

 

Saat ini, pendapatan dari laundry masih jauh dari kata cukup untuk memenuhi semua kebutuhan saya. Dulu sebagai karyawan, saya bisa membeli apapun yang saya inginkan. Kapanpun. Sementara sekarang, saya harus belajar mengendalikan diri terlebih dahulu. Belajar mengenali, apa yang menjadi kebutuhan, dan apa yang menjadi keinginan.

Meski tidak mudah, saya tidak menyerah. Pilihan ini sudah saya ambil, saya akan terus maju memperjuangkannya. Karena saya yakin, pelangi yang indah akan muncul setelah hujan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *