Pengalaman Bekerja di Pet Shop Tahun 2018, Ini Rasanya!

SIAPA SAYA

Nama saya Albert. Saya orang Jakarta kelahiran Malang pada tahun 1988. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Hobi saya adalah menggambar, dan itu juga adalah bakat saya. Saya ingin berbagi sedikit tentang pengalaman saya bekerja di salah satu pet shop setelah mundur dari GBL dan berkutat dengan banyak hal.

MENCARI KERJA

Sesudah tahun 2012 kembali kuliah, PT GBL tempat saya dulu bekerja tutup pada tahun 2013, dan bergumul dengan banyak hal, pada tahun 2018 saya memutuskan untuk kembali mencari pekerjaan tetap. Kali ini saya mencoba bekerja pada salah satu pet shop di Jalan Daan Mogot, daerah Grogol. Saya memilih mencoba bekerja di sana karena saya suka anjing dan akan mengurusinya sampai beres.

Saat saya di Malang saya pernah mencari sendirian anjing yang lepas di sebuah rumah yang besar pekarangannya dan baru ketemu setelah setengah jam penuh bersusah payah keliling rumah. Dulu saya kesulitan mencari anjing, namun selang beberapa bulan justru saya kesulitan menghindari anjing.

Pengalaman Bekerja di Pet Shop

Selama di Jakarta saya sering ke sebuah mall di Jalan Gajah Mada,  di mana ada pet shop di dalamnya. Saya pernah berkeinginan untuk bekerja di pet shop mengurusi anjing. Memang pengetahuan saya terbatas namun saya mau mencoba belajar.

PENGALAMAN BEKERJA DI PET SHOP

Di pet shop ini, ternyata saya bertugas bukan sebagai pengurus anjing. Saya akan diperkerjakan sebagai pengurus media sosial yang perlu mempromosikan servis baru, yaitu pembersihan rumah dari kutu dan tungau, terutama bagi mereka yang punya hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. Saya diminta untuk mendesain kontennya dan lapor pada bos setiap kali membuat perubahan desain. Ini tidak seperti yang saya kira. Hanya saya yang melakukan ini, sementara beberapa karyawan lain mengurusi para anjing. Saat itu layanan ini baru akan dimulai.

Selain membuat desain, saya hanya mengawasi keadaan sekitar, terutama bila tidak ada orang. Memang ruangan itu sudah dilengkapi dengan CCTV di salah satu pojok ruangan, namun saya tetap merasa harus awas terhadap keadaan di sekeliling. Sambil menatap laptop saya pun mengontrol keadaan. Sambil menyelam minum air. Gampang untuk mendapat fasilitas yang saya butuhkan, karena wi-fi untuk mencari bahan desain sudah ada dan cukup cepat. Tugas lainnya adalah saya perlu mencari layanan pembersih rumah yang sudah lebih dahulu ada, menghubungi mereka, dan mengamati desain website mereka, lalu ditiru. Saya belum pernah melakukan hal seperti ini.

PERMASALAHAN

Di sana ada beberapa anjing yang dikandangkan, jadi terasa juga sebagai tempat penitipan anjing. Terkadang ada anjing yang dititipkan bila pemiliknya harus pergi dan baru beberapa waktu kemudian dijemput. Ada berbagai ukuran anjing, mulai yang kecil, sedang, hingga besar. Yang tenang ada, yang berisik pun ada; yang ribut ada, begitu pula yang pemalas.

Sejujurnya saya terganggu di sana. Saya tidak terlalu mempermasalahkan ukuran tempat kerja yang kecil, mengingat rumah saya juga tidak besar. Masalahnya, anjing-anjing di sana tidak semuanya terlatih untuk duduk diam dan menunggu pengurusnya setelah ditinggal pemiliknya. Ada saja anjing yang berisik walau sudah ditegur berulang kali. Alhasil, saya pun harus turun tangan menenangkan anjing itu bila tidak begitu sibuk.

Namanya saja anjing, tentunya mereka tidak bisa bicara bila lapar, haus, atau mau kencing dan buang air. Kebanyakan dari anjing-anjing di sana akan langsung buang air di area/kandang yang jadi tempat mereka. Itu sudah naluri mereka sebagai binatang. Setelah itu mereka akan menggonggong hingga berisik untuk memberitahu para petugas bahwa ada yang harus dibersihkan.Demikian pula bila mereka lapar/haus.

Sialnya kadang tidak ada orang di sana selain saya. Pernah suatu kali ada anjing yang kencing dan air kencingnya mengalir sampai mendekati kursi saya. Anjing itu sudah menggonggong sangat lama, namun tidak ada petugas yang datang membereskan ini. Alhasil daripada kursi dan kaki saya kena air kencing itu, saya memutuskan untuk membereskannya: anjing saya keluarkan dari tempatnya lalu saya pel tempat itu sampai bersih. Tak lama kemudian saya kembalikan si anjing ke tempatnya. Sekarang dia sudah tidak lagi berisik.

Karyawan di sana juga wajib melatih anjing yang ada, bila itu memang tugas mereka. Saya mendengar bahwa dulu ada banyak karyawan yang diganti karena cara mereka melatih anjing tidak tepat, bahkan terlalu kasar sehingga melukai anjing dan membuat masalah dengan pemilik. Karyawan yang bersalah pun dipecat. Saat saya ada, karyawan yang bertugas melatih anjing sudah lebih halus dan lebih paham tentang pelatihan hewan.

pet shop

Walau pekerjaan berbeda, namun karena ada banyak anjing di sekitar, yang adalah hewan kesenangan saya, saya jadi lebih peka pada mereka. Selain masalah kencing dan buang air, saya juga membantu memantau air minum dan makanan mereka walau saya tidak bertugas untuk itu; minimal saya memberitahu petugas yang bertanggungjawab bila ada anjing yang kehabisan makanan / minuman, apalagi bila dia menggonggong cukup lama dan keras.

Saya kasihan pada beberapa anjing yang pernah ada di sana. Ukuran kandangnya terlalu kecil untuk si anjing. Binatang itu jadi susah bergerak dan hanya bisa bolak-balik dengan tidak nyaman. Tapi kandang yang lain tidak beda jauh ukurannya dan pembatas yang ada sudah lebih dahulu dipakai untuk anjing lain yang ada.

PENGUNDURAN DIRI

Hampir setiap kali keadaan di tempat kerja adalah berisik dan udaranya pengap dan bau. Hal-hal seperti itu seringkali mengganggu pekerjaan saya. Sebenarnya ada pilihan untuk tinggal di sana, namun saya menolak karena ini bukan masalah tempat tinggalnya dan rumah saya dekat dengan tempat kerja. Belum lagi bila kemauan bos sulit untuk dipahami. Seringkali bos ingin A namun saya mengangkapnya sebagai B. Alhasil saya harus berulangkali mengubah desain.

Keadaan kadang diperparah dengan tidak adanya orang yang menangani anjing yang ribut. Fasilitas yang ada tidak sebanding dengan gangguan yang saya dapatkan. Ditambah lagi jam masuk kantor yang sangat pagi (jam setengah delapan) dan pulang bisa baru jam enam malam.

Saya paham bahwa memang ada aktivitas lain yang harus ditinggal karena pekerjaan lebih penting, tapi saya sungguh merasa tidak nyaman dengan semua ini. Saya tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan demikian dan akhirnya pekerjaan saya tidak lancar. Saya pun merasa tidak berkembang dan akhirnya saya putuskan untuk mengundurkan diri walau jangka waktu saya bekerja di situ hanya sebentar saja.

Saya tidak mau alih profesi di tempat kerja yang sama, sebab saya juga tidak tahan dengan lingkungannya. Orangtua saya memang kecewa, begitu pula bos dan teman-teman karyawan, namun keputusan saya sudah bulat. Saya mundur pada pertengahan tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *